Mewaspadai KLB Difteri Dengan Booster Vaksinnya

Difteri merupakan penyakit yang berbahaya di kalangan anak-anak dalam rentang umur 2 bulan – 15 tahun. Difteri merupakan salah satu dari penyakit PD3I, yaitu penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi.  Seperti biasanya setiap tahun BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) dilaksanakan antara bulan November sampai  Desember. Imunisasi Campak untuk siswa kelas 1 SD, dan imunisasi Dt (difteri tetanus) untuk siswa kelas 2-3 telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya.



Tidak seperti biasanya, di tengah-tengah pelaksanaan BIAS ada satu program dari Dinkes yaitu kegiatan Sub PIN Difteri. Menindaklanjuti surat edran tentang pelaksanaan penanggulangan kejadian Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri untuk 19 kabupaten/Kota di Jawa Timur, maka SD Al Hikmah melaksanakan Imunisasi Tambahan tadi, dengan peruntukkan vaksin Dt bagi kelas 1 dan Td bagi kelas 2-6 serentak dalam satu hari, yaitu pada hari Senin tanggal 12 November 2012, serta susulan bagi siswa yang belum diimunisasi pada hari Rabu, tanggal 14 November 2012.

Sebelum diimunisasi pihak sekolah mengeluarkan surat konfirmasi kepada orang tua yang berisi kesediaan anaknya diimunisasi atau tidak dan ada penyerta alergi obat parasetamol atau tidak, sebab imunisasi ini dapat menyebabkan demam tetapi itu pun relatif, artinya pada anak-anak tertentu bisa tidak menimbulkan demam tergantung dari tubuh si anak masing-masing. 

Difteri dan perbedan antara Vaksin DT dan Td?
Vaksin Difteri Tetanus (DT, D besar T, kecil) dan Vaksin Tetanus difteri (Td, T besar, d kecil) adalah dua jenis vaksin yang berbeda. Bunda diharapkan dapat berhati-hati saat akan membawa balita imunisasi vaksin DT atau vaksin Td ke puskesmas/rumah sakit atau dokter anak. Bunda harus mampu memperhatikan perbedaan diantara kedua vaksin tersebut, karena jika tidak bisa membedakan dapat berbahaya bagi balita atau anak. Supaya bunda tidak bingung membedakan kedua vaksin tersebut, mungkin informasi di bawah ini bisa membantu.

Komposisi Dosis vaksin difteri
Kandungan dalam Vaksin Difteri Tetanus (DT) memiliki toksoid Difteri yang lebih tinggi yaitu 20 Lf dan kandungan toxoid tetanus murni 7,5 Lf. Sedangkan Vaksin Td  memiliki kandungan toksoid difteri dengan dosis lebih rendah sepersepuluh  dari vaksin DT yaitu difteri 2 Lf, sedangkan kandungan toksoid tetanus berjumlah sama 7,5 lf, dengan ukuran tiap dosisnya sama  0,5 ml.

Pengguna
Jika Vaksin DT ditujukan untuk bayi  usia 2, 4, 5, dan 15-18 bulan sedangkan vaksin Td diberikan sebagai imunisasi ulangan (booster) kepada anak-anak usia 7 tahun ke atas. Kenapa vaksin Td harus diberikan ulangan? karena berdasarkan dari penelitian membuktikan adanya penurunan kekebalan sesudah kurun waktu tertentu, sehingga perlu penguatan pada usia anak. Dengan adanya hal tersebut, pemerintah pada bulan September-November setiap tahunnya mengadakan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di berbagai sekolah dasar untuk anak yang duduk di kelas 1-3.

Manfaat vaksin difteri
Vaksin ini memiliki manfaat untuk memberikan proteksi terhadap penyakit Difteri dan Tetanus. Penyakit Difteri yang biasanya menyerang bagian atas mukosa saluran pernapasan dan kulit yang terluka. Gejala penyakit difteri biasanya ditandai dengan sakit tekak dan demam secara tiba-tiba disertai tumbuhnya membran kelabu yang menutupi tonsil serta bagian saluran pernapasan. Sedangkan penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yang berbahaya karena mempengaruhi sistem urat saraf dan otot.
Dengan memberikan vaksin DT dan Td merupakan salah satu upaya preventif untuk pencegahan dan menciptakan kekebalan secara terus menerus untuk penyakit tersebut, sehingga diharapkan dengan pemberian vaksin ini dapat memberikan perlindungan sampai dewasa. Jadi, jika Bunda memberikan vaksin ini merupakan salah satu upaya preventif yang mampu memutus mata rantai penularan penyakit di lingkungan masyarakat. Semoga dengan informasi ini, mudah-mudahan Bunda dapat lebih memahami perbedaan antara Vaksin DT dan Vaksin Td.

Difteri adalah suatu infeksi akut pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. Lebih sering menyerang anak-anak. Penularan biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat. Selain itu penyakit ini bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi. Tetapi tak jarang racun juga menyerang kulit dan bahkan menyebabkan kerusakan saraf dan jantung. Jika tidak diobati, racun yang dihasilkan oleh kuman ini dapat menyebabkan reaksi peradangan pada jaringan saluran napas bagian atas sehingga sel-sel jaringan dapat mati.
Sel-sel jaringan yang mati bersama dengan sel-sel radang membentuk suatu membran atau lapisan yang dapat mengganggu masuknya udara pernapasan. Membran atau lapisan ini berwarna abu-abu kecoklatan, dan biasanya dapat terlihat. Gejalanya anak menjadi sulit bernapas. Jika lapisan terus terbentuk dan menutup saluran napas yang lebih bawah akan menyebabkan anak tidak dapat bernapas. Akibatnya sangat fatal karena dapat menimbulkan kematian jika tidak ditangani dengan segera. Ya itulah bila terlambat menangani penyakit Difteri.


Share this post :

Posting Komentar

Unit Penunjang

www.GuruKita.com

Test Sidebar

Label: Pendidikan
Recent Posts
Widget by: Info Blog
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SDBI Al Hikmah Surabaya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger